Pak Me-Yong adalah satu-satunya orang di kampung itu yang tidak disukai orang, tetapi sekaligus juga ditakuti. Soalnya Pak Me-Yong kabarnya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Yaitu bisa melihat orang halus atau sejenis hantu. Bahkan Pak Me-Yong sendiri sering mengaku punya kenalan hantu cukup banyak. Tentu saja orang-orang kampung semakin takut kepadanya.
Yang membuat Pak Me-Yong tidak disukai orang karena dia sering minta sumbangan makanan dari pada penduduk dengan alasan permintaan dari orang halus. Jenis makanan yang diminta bermacam-macam, seperti misalnya soto babat, bakso urat, mie pangsit, kwetiaw, sate kambing, ayam goreng, daging rendang, udang bumbu pedas, kepiting rebus, cap-cay, dll. Pokoknya makanan yang serba enak.
Tentu saja para penduduk yang dimintai sumbangan makanan sering menggerutu, soalnya mereka sendiri untuk makan sehari-hari sering berhemat dengan makanan sederhana.
"Saya jengkel sama Pak Me-Yong" kata Pak Uyut, salah seorang penduduk kepada Pak Ko'i tetangganya "masa Pak Me-Yong minta sumbangan ayam panggang sama sop buntut? Padahal saya sekeluarga setiap hari cuma makan nasi sama kangkung."
"Apa lagi saya" sahut Pak Ko'i "saya sakit hati sama Pak Me-Yong, soalnya dia minta sumbangan semur daging sama ikan gurame goreng, terus masih ditambah kue tart, katanya buat cuci mulut orang halus, padahal saya sendiri cuma makan singkong setengah matang!"
Mendadak Pak Uyut dan Pak Ko'i terdiam karena tiba-tiba Pak Me-Yong lewat di dekat mereka.
"Lagi ngomongin saya, ya?" Pak Me-Yong menghentikan langkahnya.
"Enggak, kok!" Pak Uyut dan Pak Ko'i menjawab hampir serentak.
"Terserah..." sahut Pak Me-Yong "pokoknya asal tahu saja, bahwa setiap orang yang ngomongin saya, kalau malam pasti didatangi putih-putih!"
"Putih-putih apa??!" Pak Uyut dan Pak Ko'i kaget.
"Orang halus yang warnanya serba putih" Pak Me-Yong tersenyum "mukanya putih, rambutnya putih, kaki dan tangannya putih, perutnya putih, pusarnya putih, lidahnya putih. Pokoknya semua putih kecuali giginya saja yang warnanya kuning!"
"Hiiiii... jangan, ah!" Pak Uyut dan Pak Ko'i langsung merinding dan saling berpelukan karena takut "ampuuuuun... kami janji nggak akan ngomongin kamu lagi!"
"Makanya lain kali jangan ngomongin saya" Pak Me-Yong berkata sambil meninggalkan tempat itu dengan tenang. Tentu saja makin hari Pak Me-Yong makin berani berbuat semaunya.
Tapi pada suatu hari Pak RT memberanikan diri mendatangi rumah Pak Me-Yong dan berkata terus terang "Pak Me-Yong, lama-lama saya curiga sama kamu."
"Curiga soal apa?" Pak Me-Yong tampak santai.
"Curiga soal ucapanmu" kata Pak RT "jangan-jangan kamu selama ini hanya membohongi penduduk kampung ini seolah-olah kamu bisa melihat orang halus, padahal sebenarnya kamu tidak melihat apa-apa."
"Oo... jadi Pak RT nggak percaya kalau saya bisa melihat orang halus?" Pak Me-Yong tersenyum "tuh, di punggungnya Pak RT ada orang halus!"
"Di punggung saya?!!" Pak RT kaget sekali sambil berputar-putar menoleh kebelakang dan meraba-raba punggungnya "manaaaa??!!"
"Itu di punggung Pak RT, masa gak terasa?" Pak Me-Yong tertawa "ituuu... lagi nongkrong minta digendong, bentuknya seperti nenek-nenek kurus, giginya cuma ada dua tapi runcing-runcing, pipinya jerawatan dan ada buntutnya. Masa nggak terasa??!"
"Hiiiy... mana sih?! Serem banget!" Pak RT ketakutan dan masih berputar-putar sambil meraba-raba punggungnya "manaaaaa??!!!"
"Tuh, masih ada!" Pak Me-Yong menunjuk kearah punggungnya Pak RT "sekarang malah nambah dua lagi bergelantungan di leher!"
"Aduuuh... jangan, dong! Jangaaaann!!!" Pak RT menepis-nepis lehernya dengan tangannya "toloooong!! Tolong usir mereka!!"
"Mau diusir? Baik!" Pak Me-Yong tersenyum lalu mengibas-ngibaskan tangannya seperti ayam "Huss! Huss! Pergi sana! Jangan menggangu Pak RT! Hayo, pergiiii!"
Pak RT masih berputar-putar dan menepis-nepis lehernya.
"Sudah, mereka sudah saya usir. Tenang saja!" kata Pak Me-Yong.
"Sungguh? Mereka sudah pergi betulan?" Pak RT terengah-engah.
"Jangan takut, Pak RT. Sebetulnya di punggung dan di lehernya Pak RT tidak ada apa-apanya" tiba-tiba seseorang muncul. Ternyata dia adalah Pak Badar, seorang pendatang baru, yang merupakan satu-satunya penduduk yang tidak mau memberikan sumbangan makanan kepada Pak Me-Yong.
"Pak Badar, kamu jangan ikut campur!" Pak Me-Yong marah, lalu menunjuk diatas kepalanya Pak Badar "tuh lihat, di atas kepalamu ada lima ekor hantu. Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Meletus hantu hijau, dor!"
"Bohong, di atas kepalaku nggak ada apa-apanya" Pak Badar tersenyum "malah di kedua ketiakmu saya lihat ada gerombolan tuyul lagi main ayun-ayunan" Pak Badar menunjuk ke arah ketiaknya Pak Me-Yong "ketiak sebelah kiri ada 12 ekor dan di ketiak sebelah kanan ada 24 ekor. Hiii... serem!!"
Entah kenapa Pak Me-Yong tiba-tiba ketakutan, soalnya dia memang merasakan di kedua ketiaknya seperti ada yang menggelitik. Rasanya geli-geli campur gatal.
"Hiiii... toloooong!!" Pak Me-Yong lari masuk ke dalam rumah lalu membuka baju memeriksa kedua ketiaknya. Ternyata pada masing-masing ketiaknya ada dua ekor kecoa sedang main petak umpet. Pak Me-Yong marah sekali karena merasa dipermalukan oleh Pak Badar. Tapi sejak itu Pak Me-Yong tidak berani lagi minta sumbangan makanan kepada para tetangganya, karena kebohongannya sudah terbongkar. ***
Kumpulan cerita menarik yang diambil dari majalah AMI, bisa dijadikan dongeng sebelum tidur, cerita santai, dll
Wednesday, June 15, 2011
Thursday, January 27, 2011
Ilmu Menghilang
Pak O-Yen adalah orang yang pemalas. Ketika orang-orang pada pagi hari berangkat bekerja, dia malah masih tidur dan baru bangun setelah hari sudah siang. Setelah bangun tidur dia tidak langsung mandi atau gosok gigi, tapi langsung sarapan dan sesudah itu duduk-duduk santai di depan rumahnya sampai matanya mengantuk lalu tidur lagi.
Untungnya Pak O-Yen hidup sendirian dan memiliki rumah warisan dari orang tuanya dan sedikit uang tabungan hasil penjualan tanah. Itulah yang dipergunakannya untuk menyambung hidup sehari-hari. Tapi tentu saja tabungannya semakin lama semakin berkurang, karena dia tidak punya penghasilan.
"Pak O-Yen, kenapa sih anda tidak mau bekerja seperti orang-orang lain?" suatu hari Pak O-Gan tetangganya, bertanya "kan setiap orang perlu bekerja?"
"Untuk apa bekerja? kan saya punya tabungan" Pak O-Yen tersenyum.
"Tapi tabunganmu lama-lama kan bisa habis?"
"Ooo...itu gampang di pikirkan nanti" sahut Pak O-Yen santai "lagi pula di Alkitab kan tertulis bahwa burung-burung yang tidak bekerja tetap dipelihara oleh Tuhan, apalagi manusia seperti saya.
"Mendengar itu Pak O-Gan segera pergi meninggalkan Pak O-Yen, karena memang tidak ada gunanya banyak bicara dengan orang yang pemalas.
Tapi sebenarnya Pak O-Yen sendiri sedang berpikir, apa jadinya kalau sampai uang tabungannya habis sedangkan dia sendiri enggan bekerja. Pada saat itulah tanpa sengaja Pak O-Yen menemukan sebuah buku tipis yang kumal di dekat tempat sampah. Buku itu berjudul "Cara Supaya Bisa Menghilang"
"Wah, buku ini bagus untuk dipelajari" kata Pak O-Yen dalam hati "kalau aku bisa menghilang, maka aku tidak perlu lagi repot-repot bekerja mencari uang atau makanan. Aku tinggal mengambil saja uang di Bank atau mengambil makanan di restoran tanpa terlihat oleh orang lain."
Pak O-Yen bergegas pulang lalu mempelajari isi buku itu di rumahnya. Di dalam buku itu tertulis bahwa supaya manusia bisa menghilang, persyaratannya ternyata cukup sulit.
Pertama-tama harus berpuasa tiga hari tiga malam tidak makan nasi, kecuali makan lontong atau ketupat. Selanjutnya harus mandi air kembang yang dicampur 5 sendok trasi dan 2 ember air lumpur. Kemudian dia harus berjalan mundur mengelilingi kamar sebanyak 20 kali putaran sambil mengucapkan mantra. Sesudah itu duduk bersemedi selama satu hari sambil mengeluarkan lidah dan berkedap kedip seperti orang kelilipan, lalu berjongkok sambil melompat-lompat seperti kodok selama 2 jam.
Pak O-Yen melakukan itu semua dengan tekun. Sampai akhirnya dia mengambil secarik kain hitam yang sudah diasapi dengan asap kemenyan. Menurut petunjuk yang tertulis dalam buku itu, jika kain hitam itu dikenakan sebagai ikat kepala, maka dia bisa menghilang.
Kini Pak O-Yen merasa puas. Maka mulailah dia mempraktekkan ilmunya. Setelah mulutnya komat-kamit membaca mantra, Pak O-Yen mulai mengikatkan secarik kain hitam itu di kepalanya. Setelah itu dia melangkah keluar dari pintu rumahnya. Kebetulan di depan pintu itu ada seekor kucing sedang duduk.
Pak O-Yen sengaja menakut-nakuti kucing itu dengan gerakan mengusir. Tapi ternyata kucing itu diam saja seolah-olah tidak melihat Pak O-Yen.
Tentu saja Pak O-Yen girang sekali "Asyiik, ternyata kucing ini tidak bisa melihat aku. Berarti aku bisa menghilang." Padahal sebenarnya kucing itu sedang sakit, sehingga diam saja meskipun Pak O-Yen memperlihatkan sikap mengusir.
Pak O-Yen lalu berjalan keluar sambil bersiul-siul. Tiba di lapangan, Pak O-Yen melihat ada seorang nenek sedang duduk di bangku taman. Pak O-Yen segera mendekati nenek itu lalu berjoget di depannya. Nenek itu diam saja. Bahkan ketika Pak O-Yen sengaja mencolek ujung hidungnya, nenek itu masih tetap diam. Pak O-Yen tidak tahu bahwa sebenarnya nenek itu sudah pikun.
"Wah, berarti aku benar-benar sudah bisa menghilang." Pak O-Yen berkata dalam hati "sekarang aku akan masuk restoran dan akan makan minum sepuasnya tanpa membayar."
Dengan tenang Pak O-Yen menyebrang jalan lalu menuju restoran mahal yang menyediakan hidangan prasmanan. Pak O-Yen melihat para pengunjung restoran itu mengambil piring sendiri dan mengambil makanan apa saja sesuai dengan selera mereka, lalu menikmati makanan itu di meja lalu membayar.
"Mereka makn dan membayar, tapi aku tidak perlu membayar" Pak O-Yen tersenyum "pokoknya aku mau makan sepuasnya lalu mengambil uang di meja kasir dan sesudah itu membungkus makanan buat oleh-oleh."
Dengan pe-de Pak O-Yen ikut-ikutan mengambil piring dan mulai memilih makanan-makanan kesukaannya lengkap dengan minuman segar, lalu menuju meja dan menikmati hidangan itu dengan tenang. Setelah makan kenyang, Pak O-Yen mengusap-ngusap perutnya lalu melangkah pergi.
"Eh, Mas! Bayar dulu!" tiba-tiba seorang pelayan menarik bajunya "Enak saja habis makan langsung mau kabur, memangnya ini restoran Mbah-mu!?"
"Lho, kamu bisa melihat saya?" Pak O-Yen kaget.
"Ya jelas melihat" pelayan itu melotot "ayo, cepat bayar"
"Bayar?" Pak O-Yen bingung.
"Iya dong!" pelayan itu marah "kamu kan tadi makan nasi putih 2 piring, ayam goreng 5 potong, daging rendang 4 potong, udang goreng 2 piring, bebek panggang 1 ekor, mie pangsit 2 mangkok, sate ayam 15 tusuk dan minum jus apel 2 gelas. Total harganya satu juta dua ratu ribu rupiah!"
"Dia tadi nambah telor dadar 4 biji" kata pelayan yang lainnya "berarti harganya tambah dua ratus ribu. Soalnya harga telor di sini lima puluh ribu sebutir!"
"Lima puluh ribu sebutir? mahal banget" Pak O-Yen kaget "di warung sebelah rumah saya, harga telor cuma tujuh ratus rupiah sebutir!"
Tapi kedua pelayan itu tidak peduli. Karena Pak O-Yen hanya punya uang seribu lima ratus rupiah, maka Pak O-Yen dibawa ke kantor polisi. Pak O-Yen yang pemalas itu harus menanggung akibat perbuatannya. Dia mengira burung yang tidak bekerja dipelihara oleh Tuhan, padahal burung itupun harus terbang meninggalkan sarangnya untuk mencari makan. Berarti burungpun harus bekerja untuk memperoleh makanannya.***
Untungnya Pak O-Yen hidup sendirian dan memiliki rumah warisan dari orang tuanya dan sedikit uang tabungan hasil penjualan tanah. Itulah yang dipergunakannya untuk menyambung hidup sehari-hari. Tapi tentu saja tabungannya semakin lama semakin berkurang, karena dia tidak punya penghasilan.
"Pak O-Yen, kenapa sih anda tidak mau bekerja seperti orang-orang lain?" suatu hari Pak O-Gan tetangganya, bertanya "kan setiap orang perlu bekerja?"
"Untuk apa bekerja? kan saya punya tabungan" Pak O-Yen tersenyum.
"Tapi tabunganmu lama-lama kan bisa habis?"
"Ooo...itu gampang di pikirkan nanti" sahut Pak O-Yen santai "lagi pula di Alkitab kan tertulis bahwa burung-burung yang tidak bekerja tetap dipelihara oleh Tuhan, apalagi manusia seperti saya.
"Mendengar itu Pak O-Gan segera pergi meninggalkan Pak O-Yen, karena memang tidak ada gunanya banyak bicara dengan orang yang pemalas.
Tapi sebenarnya Pak O-Yen sendiri sedang berpikir, apa jadinya kalau sampai uang tabungannya habis sedangkan dia sendiri enggan bekerja. Pada saat itulah tanpa sengaja Pak O-Yen menemukan sebuah buku tipis yang kumal di dekat tempat sampah. Buku itu berjudul "Cara Supaya Bisa Menghilang"
"Wah, buku ini bagus untuk dipelajari" kata Pak O-Yen dalam hati "kalau aku bisa menghilang, maka aku tidak perlu lagi repot-repot bekerja mencari uang atau makanan. Aku tinggal mengambil saja uang di Bank atau mengambil makanan di restoran tanpa terlihat oleh orang lain."
Pak O-Yen bergegas pulang lalu mempelajari isi buku itu di rumahnya. Di dalam buku itu tertulis bahwa supaya manusia bisa menghilang, persyaratannya ternyata cukup sulit.
Pertama-tama harus berpuasa tiga hari tiga malam tidak makan nasi, kecuali makan lontong atau ketupat. Selanjutnya harus mandi air kembang yang dicampur 5 sendok trasi dan 2 ember air lumpur. Kemudian dia harus berjalan mundur mengelilingi kamar sebanyak 20 kali putaran sambil mengucapkan mantra. Sesudah itu duduk bersemedi selama satu hari sambil mengeluarkan lidah dan berkedap kedip seperti orang kelilipan, lalu berjongkok sambil melompat-lompat seperti kodok selama 2 jam.
Pak O-Yen melakukan itu semua dengan tekun. Sampai akhirnya dia mengambil secarik kain hitam yang sudah diasapi dengan asap kemenyan. Menurut petunjuk yang tertulis dalam buku itu, jika kain hitam itu dikenakan sebagai ikat kepala, maka dia bisa menghilang.
Kini Pak O-Yen merasa puas. Maka mulailah dia mempraktekkan ilmunya. Setelah mulutnya komat-kamit membaca mantra, Pak O-Yen mulai mengikatkan secarik kain hitam itu di kepalanya. Setelah itu dia melangkah keluar dari pintu rumahnya. Kebetulan di depan pintu itu ada seekor kucing sedang duduk.
Pak O-Yen sengaja menakut-nakuti kucing itu dengan gerakan mengusir. Tapi ternyata kucing itu diam saja seolah-olah tidak melihat Pak O-Yen.
Tentu saja Pak O-Yen girang sekali "Asyiik, ternyata kucing ini tidak bisa melihat aku. Berarti aku bisa menghilang." Padahal sebenarnya kucing itu sedang sakit, sehingga diam saja meskipun Pak O-Yen memperlihatkan sikap mengusir.
Pak O-Yen lalu berjalan keluar sambil bersiul-siul. Tiba di lapangan, Pak O-Yen melihat ada seorang nenek sedang duduk di bangku taman. Pak O-Yen segera mendekati nenek itu lalu berjoget di depannya. Nenek itu diam saja. Bahkan ketika Pak O-Yen sengaja mencolek ujung hidungnya, nenek itu masih tetap diam. Pak O-Yen tidak tahu bahwa sebenarnya nenek itu sudah pikun.
"Wah, berarti aku benar-benar sudah bisa menghilang." Pak O-Yen berkata dalam hati "sekarang aku akan masuk restoran dan akan makan minum sepuasnya tanpa membayar."
Dengan tenang Pak O-Yen menyebrang jalan lalu menuju restoran mahal yang menyediakan hidangan prasmanan. Pak O-Yen melihat para pengunjung restoran itu mengambil piring sendiri dan mengambil makanan apa saja sesuai dengan selera mereka, lalu menikmati makanan itu di meja lalu membayar.
"Mereka makn dan membayar, tapi aku tidak perlu membayar" Pak O-Yen tersenyum "pokoknya aku mau makan sepuasnya lalu mengambil uang di meja kasir dan sesudah itu membungkus makanan buat oleh-oleh."
Dengan pe-de Pak O-Yen ikut-ikutan mengambil piring dan mulai memilih makanan-makanan kesukaannya lengkap dengan minuman segar, lalu menuju meja dan menikmati hidangan itu dengan tenang. Setelah makan kenyang, Pak O-Yen mengusap-ngusap perutnya lalu melangkah pergi.
"Eh, Mas! Bayar dulu!" tiba-tiba seorang pelayan menarik bajunya "Enak saja habis makan langsung mau kabur, memangnya ini restoran Mbah-mu!?"
"Lho, kamu bisa melihat saya?" Pak O-Yen kaget.
"Ya jelas melihat" pelayan itu melotot "ayo, cepat bayar"
"Bayar?" Pak O-Yen bingung.
"Iya dong!" pelayan itu marah "kamu kan tadi makan nasi putih 2 piring, ayam goreng 5 potong, daging rendang 4 potong, udang goreng 2 piring, bebek panggang 1 ekor, mie pangsit 2 mangkok, sate ayam 15 tusuk dan minum jus apel 2 gelas. Total harganya satu juta dua ratu ribu rupiah!"
"Dia tadi nambah telor dadar 4 biji" kata pelayan yang lainnya "berarti harganya tambah dua ratus ribu. Soalnya harga telor di sini lima puluh ribu sebutir!"
"Lima puluh ribu sebutir? mahal banget" Pak O-Yen kaget "di warung sebelah rumah saya, harga telor cuma tujuh ratus rupiah sebutir!"
Tapi kedua pelayan itu tidak peduli. Karena Pak O-Yen hanya punya uang seribu lima ratus rupiah, maka Pak O-Yen dibawa ke kantor polisi. Pak O-Yen yang pemalas itu harus menanggung akibat perbuatannya. Dia mengira burung yang tidak bekerja dipelihara oleh Tuhan, padahal burung itupun harus terbang meninggalkan sarangnya untuk mencari makan. Berarti burungpun harus bekerja untuk memperoleh makanannya.***
Kasih Itu Indah
Rasanya tidak ada seorang rajapun yang sebaik Raja Hatsi. Beliau oleh orang tuanya diberi nama Hatsi karena konon kabarnya ketika masih kecil, beliau sering sakit pilek dan suka bersin: Haaaatssiiii!!!
Raja Hatsi dicintai seluruh rakyatnya karena beliau memerintah dengan penuh kasih sayang dan sangat sabar. Hampir tidak pernah terjadi kejahatan atau pelanggaran di dalam negerinya karena semua rakyatnya taat dan tertib terhadap semua peraturan.
Tidak ada copet di terminal-terminal bis atau di pasar-pasar dan tidak ada calo di stasiun-stasiun kereta api. Para penjaga keamanan setiap hari selalu tampak santai duduk-duduk sambil bermain catur atau mengisi buku TTS karena tidak ada maling dan gangguan keamanan lainnya, sedangkan para polisi lalu lintas sering tampak duduk-duduk sambil bermain gitar di dekat lampu merah, karena tidak pernah ada pelanggaran lalu lintas. Pokoknya seluruh lapisan masyarakat merasakan suasana damai dan tenteram.
"Kalau begini terus, aku lama-lama jadi bosan" salah seorang penduduk mengeluh "masak negara kita ini tidak pernah ada kejutan?"
"Kalau kamu mau membuat kejutan, mudah saja" sahut temannya "kamu berguling-gulingan di tengah perempatan jalan itu, pasti kamu ditangkap polisi!"
Orang itu menuruti kata-kata temannya. Dia menuju ke jalan raya yang padat lalu lintas lalu dia berguling-gulingan di perempatan jalan sehingga seluruh kendaraan jadi macet.
"Hai, kamu ini sengaja mengacaukan lalu lintas, ya?!!" seorang polisi berkumis melintang dan berwajah garang mendekatinya.
"Iya, Pak. Saya memang sengaja membuat gara-gara" sahut orang itu. "Lain kali jangan berbuat begitu lagi ya, sayang?" polisi berkata dengan lemah lembut sambil membelai-belai rambut orang itu "kalau kamu nakal, nanti dicubit Ibu Guru."
Orang itu tertunduk lalu pergi sambil menangis tersedu-sedu karena ternyata tidak ditangkap.
Suatu hari seorang laki-laki ditangkap karena mencuri kambing. Maka si pencuri itu dihadapkan ke pengadilan.
"Kenapa kamu mencuri kambing?" hakim bertanya.
"Karena kambing itu jenggotnya mirip jenggot Kakek saya, Pak" sahut si pencuri "karena kebetulan saya nggak punya fotonya Kakek, maka saya mencuri kambing itu. Nggak apa-apa kan, Pak?"
"Ooo... nggak apa-apa, Pak" si pemilik kambing tertawa "malah lain kali kalau dia mencuri sapi saya karena Oom-nya mirip sapi, saya rela!"
Akhirnya sidang pengadilan itu selesai dengan damai.
Begitulah keadaan masyarakat di bawah pemerintahan Raja Hatsi. Semua persoalan dapat diselesaikan secara baik tanpa ada dendam atau sakit hati.
Suatu hari terdengar kabar bahwa pasukan musuh dari kerajaan lain hendak menyerang. Mendengar berita itu Raja Hatsi segera memerintahkan semua tentara dan rakyatnya bersiap-siap.
"Kalian semua harus bersiap-siap menyambut kedatangan musuh!" kata Raja.
"Maksud Tuanku kami harus berperang?" tanya Kepala Pasukan.
"Bukan!" sahut Raja Hatsi "kalian harus bersiap-siap menyediakan hidangan. Mereka kan datang dari jauh dan pasti perutnya lapar? Kasihan dong!"
Seluruh rakyat dan seisi istana sibuk. Mereka menyiapkan hidangan dan minuman lezat untuk menyambut musuh. Bahkan di halaman istana disediakan panggung untuk orkes dang-dut lengkap dengan hiasan yang meriah. Persis di depan pintu gerbang istana dipasang tulisan besar yang berbunyi : Selamat Datang Para Musuh Yang Budiman.
Ketika pasukan musuh datang dengan raja mereka, mereka terkejut karena mendapat sambutan yang ramah dari Raja Hatsi serta seluruh pasukannya dan juga seluruh rakyatnya. Bahkan mereka langsung dipersilahkan istirahat, makan minum dan menikmati hiburan orkes dang-dut.
"Silahkan kalian menikmati hidangan dan hiburan sepuasnya" kata Raja Hatsi "sebenarnya kalian kemari ada perlu apa?"
"Ah, enggak. Kami cuma main-main saja, kok!" sahut raja dari pasukan musuh itu sambil malu-malu "kami boleh sekalian numpang mandi nggak?"
"Oo... boleh saja" Raja Hatsi tertawa "mau sekalian ikut arisan di istana juga boleh!"
Peperangan besar antara dua negara yang seharusnya terjadi, berubah menjadi pesta penuh sukacita dalam ikatan persaudaraan karena sikap permusuhan dibalas dengan kebajikan dan kebencian dibalas dengan kasih.***
Raja Hatsi dicintai seluruh rakyatnya karena beliau memerintah dengan penuh kasih sayang dan sangat sabar. Hampir tidak pernah terjadi kejahatan atau pelanggaran di dalam negerinya karena semua rakyatnya taat dan tertib terhadap semua peraturan.
Tidak ada copet di terminal-terminal bis atau di pasar-pasar dan tidak ada calo di stasiun-stasiun kereta api. Para penjaga keamanan setiap hari selalu tampak santai duduk-duduk sambil bermain catur atau mengisi buku TTS karena tidak ada maling dan gangguan keamanan lainnya, sedangkan para polisi lalu lintas sering tampak duduk-duduk sambil bermain gitar di dekat lampu merah, karena tidak pernah ada pelanggaran lalu lintas. Pokoknya seluruh lapisan masyarakat merasakan suasana damai dan tenteram.
"Kalau begini terus, aku lama-lama jadi bosan" salah seorang penduduk mengeluh "masak negara kita ini tidak pernah ada kejutan?"
"Kalau kamu mau membuat kejutan, mudah saja" sahut temannya "kamu berguling-gulingan di tengah perempatan jalan itu, pasti kamu ditangkap polisi!"
Orang itu menuruti kata-kata temannya. Dia menuju ke jalan raya yang padat lalu lintas lalu dia berguling-gulingan di perempatan jalan sehingga seluruh kendaraan jadi macet.
"Hai, kamu ini sengaja mengacaukan lalu lintas, ya?!!" seorang polisi berkumis melintang dan berwajah garang mendekatinya.
"Iya, Pak. Saya memang sengaja membuat gara-gara" sahut orang itu. "Lain kali jangan berbuat begitu lagi ya, sayang?" polisi berkata dengan lemah lembut sambil membelai-belai rambut orang itu "kalau kamu nakal, nanti dicubit Ibu Guru."
Orang itu tertunduk lalu pergi sambil menangis tersedu-sedu karena ternyata tidak ditangkap.
Suatu hari seorang laki-laki ditangkap karena mencuri kambing. Maka si pencuri itu dihadapkan ke pengadilan.
"Kenapa kamu mencuri kambing?" hakim bertanya.
"Karena kambing itu jenggotnya mirip jenggot Kakek saya, Pak" sahut si pencuri "karena kebetulan saya nggak punya fotonya Kakek, maka saya mencuri kambing itu. Nggak apa-apa kan, Pak?"
"Ooo... nggak apa-apa, Pak" si pemilik kambing tertawa "malah lain kali kalau dia mencuri sapi saya karena Oom-nya mirip sapi, saya rela!"
Akhirnya sidang pengadilan itu selesai dengan damai.
Begitulah keadaan masyarakat di bawah pemerintahan Raja Hatsi. Semua persoalan dapat diselesaikan secara baik tanpa ada dendam atau sakit hati.
Suatu hari terdengar kabar bahwa pasukan musuh dari kerajaan lain hendak menyerang. Mendengar berita itu Raja Hatsi segera memerintahkan semua tentara dan rakyatnya bersiap-siap.
"Kalian semua harus bersiap-siap menyambut kedatangan musuh!" kata Raja.
"Maksud Tuanku kami harus berperang?" tanya Kepala Pasukan.
"Bukan!" sahut Raja Hatsi "kalian harus bersiap-siap menyediakan hidangan. Mereka kan datang dari jauh dan pasti perutnya lapar? Kasihan dong!"
Seluruh rakyat dan seisi istana sibuk. Mereka menyiapkan hidangan dan minuman lezat untuk menyambut musuh. Bahkan di halaman istana disediakan panggung untuk orkes dang-dut lengkap dengan hiasan yang meriah. Persis di depan pintu gerbang istana dipasang tulisan besar yang berbunyi : Selamat Datang Para Musuh Yang Budiman.
Ketika pasukan musuh datang dengan raja mereka, mereka terkejut karena mendapat sambutan yang ramah dari Raja Hatsi serta seluruh pasukannya dan juga seluruh rakyatnya. Bahkan mereka langsung dipersilahkan istirahat, makan minum dan menikmati hiburan orkes dang-dut.
"Silahkan kalian menikmati hidangan dan hiburan sepuasnya" kata Raja Hatsi "sebenarnya kalian kemari ada perlu apa?"
"Ah, enggak. Kami cuma main-main saja, kok!" sahut raja dari pasukan musuh itu sambil malu-malu "kami boleh sekalian numpang mandi nggak?"
"Oo... boleh saja" Raja Hatsi tertawa "mau sekalian ikut arisan di istana juga boleh!"
Peperangan besar antara dua negara yang seharusnya terjadi, berubah menjadi pesta penuh sukacita dalam ikatan persaudaraan karena sikap permusuhan dibalas dengan kebajikan dan kebencian dibalas dengan kasih.***
Friday, October 29, 2010
Pindi, Pini dan Pisi
Pak Moyan punya tiga orang anak laki-laki: Pindi, Pini dan Pisi yang ketiganya memiliki sifat yang bikin orang tuanya stress setiap hari. Pindi sifatnya pemalas, Pini pembohong dan Pisi terlalu lugu sekaligus tuli.
Kebetulan Pak Moyan memilikitoko kecil. Untuk menjaga toko tersebut Pak Moyan memberi tugas kepada ketiga anaknya secara bergiliran. Sedangkan Pak Moyan dan istrinya sibuk menerima pesanan kue, sebab kebetulan keduanya pintar bikin kue. Tapi nyatanya mereka selalu rugi.
"Aku heran..." kata Pak Moyan suatu hari "kita ini punya toko dan punya usaha bikin kue. Tapi kok kayaknya nggak pernah untung?"
"Saya sendiri juga heran, Mas..." sahut Bu Moy, sebutan untuk istrinya Pak Moyan "jangan-jangan keuntungan kita dicuri tuyul."
Mendengar istrinya berkata begitu, tiba-tiba Pak Moyan melompat dan bersembunyi di bawah meja dengan wajah pucat pasi, ketakutan.
"Kamu, kenapa Mas?" Bu Moy heran.
"Kamu jangan ngomong soal tuyul, dong! Aku kan jadi merinding?" sahut Pak Moyan "janji, jangan ngomong tuyul, ya?"
"Iya, saya janji" kata Bu Moy sambil mengangkat tangan kanan seperti pramuka yang mengucapkan sumpah setia.
"Begini saja, Bu..." kata Pak Moyan sambil merangkak keluar dari kolong meja "kita pura-pura pergi keluar kota, lalu kita berdua menyamar jadi orang lain untuk menyelidiki perilaku anak-anak kita. Siapa tahu mereka yang menyebabkan kita rugi selama ini."
"Saya setuju banget, Mas..." kata Bu Moy "kebetulan saya memang sudah lama curiga pada ketiga anak-anak kita itu."
Keesokan harinya Pak Moyan dan istrinya berpamit pada ketiga anaknya untuk keluar kota, padahal mereka sengaja menginap di rumah tetangga.
Malam harinya Pak Moyan dan istrinya pergi ke toko miliknya dengan menyamar. Pak Moyan mengenakan topi lebar dan kumis palsu sambil mengulum bola bekel di mulutnya, supaya suaranya sulit dikenali saat berbicara. Sedangkan Bu Moy mengenakan gaun sari seperti wanita India dengan gelang di hidung.
Ketika mereka memasuki toko, kebetulan yang giliran menjaga adalah Si Pindi. Tampak Pindi sedang duduk santai sambil membaca komik.
"Halo, saya turis" kata Pak Moyan dan istrinya.
"Halo juga" sahut Pindi tanpa menengok "mau beli apa?"
"Saya mau beli minyak rambut, bedak dan sendal jepit"
"Silahkan ambil sendiri dan uangnya taruh saja di meja" sahut Pindi.
"Harganya berapa?"
"Terserah" sahut Pindi dengan acuh sambil terus membaca komik.
Setelah meninggalkan toko, Pak Moyan berkata kepada istrinya "huh, pantas saja kita rugi. Si Pindi itu pemalas sekali. Dia tidak mau melayani dan juga tidak mau perduli soal harga."
"Pindi itu memang keterlaluan" Bu Moy ngomel "pantas kabarnya ada tetangga kita yang bilang bahwa harga di toko kita murah sekali, soalnya dia katanya pernah membeli beras setengah karung cuma membayar Rp. 5000.-"
Keesokkan harinya kembali Pak Moyan dan istrinya pergi ke toko miliknya, dan giliran yang menjaga toko adalah Si Pini.
"Mau beli apa?" Pini langsung mendatangi.
"Kami mau beli sembako" kata Bu Moy "apakah ini tokonya Pak Moyan?"
"Bukan. Ini toko milik saya" sahut Pini "Pak Moyan itu pelayan saya.
"Oo.. begitu" Bu Moy mengangguk-ngangguk, sementara Pak Moyan ingin sekali memukul hidung anaknya itu karena mengatakan dia adalah pelayannya.
"Apakah kalau saya membeli banyak, akan dapat potongan harga?"
"Bukan hanya potongan harga, tapi juga berhadiah" sahut Pini bersemangat "di toko saya ini kalau beli satu sabun mandi dapat hadiah sebuah TV. Kalau beli satu botol minyak angin dapat hadiah kulkas!"
"Wow bukan main..." Bu Moy berdecak pura-pura kagum walaupun ingin sekali dia menarik mulut anaknya yang pembohong itu "kalau saya beli peniti, hadiahnya apa?"
"Hadiahnya ikut tour ke Bali. Tapi ngumpulnya di Denpasar" kata Pini "tapi semua hadiahnya baru diantar lima tahun kemudian."
Setelah membeli sembako secukupnya, Pak Moyan dan istrinya meninggalkan toko tersebut dengan hati yang geram.
Keesokkan harinya Pak Moyan dan istrinya bersiap-siap untuk berbelanja lagi, dan mereka pasti akan bertemu Pisi.
"Nanti kita akan bertemu Pisi, Mas" kata Bu Moy "aku yakin anak kita Si Pisi ini lebih baik dari pada Si Pindi dan Si Pini, soalnya Pisi adalah anak yang lugu."
"Lugu apanya?" Pak Moyan menggerutu "masa mentang-mentang lugu, pernah digigit anjing diam saja?"
Dan memang benar, ketika mereka tiba di toko, tampak Pisi yang menjaga.
"Permisiiii, kami mau beliiii...." kata Pak Moyan.
"Apa?" Pisi bertanya.
"Saya dan istri saya mau beli."
"Kapan?"
"Kok kapan?" Pak Moyan jengkel "kami datang ke sini mau beliiiiii....!!"
"Banyak nyamuk?"
"Begitulah kalau anak lugu, Mas" Bu Moy berbisik pada suaminya.
"Itu bukan lugu, tapi kupingnya budek!" Pak Moyan marah-marah "pantas saja kita rugi. Punya anak laki-laki tiga orang, tapi tiga-tiganya nggak ada yang beres."
Sejak saat itu Pak Moyan tidak lagi mempercayakan tokonya kepada ketiga anaknya, tetapi dia dan istrinya sendiri yang mengurusnya. Sedangkan ketiga anaknya diberi tugas membuat dan menjual kue untuk biaya hidup mereka sehari-hari. Kalau kuenya tidak enak dan tidak laku, berarti mereka sendiri yang rugi. Hanya cara itu yang membuat Pindi, Pini dan Pisi bisa menghargai jerih payah kedua orang tuanya. ***
Kebetulan Pak Moyan memilikitoko kecil. Untuk menjaga toko tersebut Pak Moyan memberi tugas kepada ketiga anaknya secara bergiliran. Sedangkan Pak Moyan dan istrinya sibuk menerima pesanan kue, sebab kebetulan keduanya pintar bikin kue. Tapi nyatanya mereka selalu rugi.
"Aku heran..." kata Pak Moyan suatu hari "kita ini punya toko dan punya usaha bikin kue. Tapi kok kayaknya nggak pernah untung?"
"Saya sendiri juga heran, Mas..." sahut Bu Moy, sebutan untuk istrinya Pak Moyan "jangan-jangan keuntungan kita dicuri tuyul."
Mendengar istrinya berkata begitu, tiba-tiba Pak Moyan melompat dan bersembunyi di bawah meja dengan wajah pucat pasi, ketakutan.
"Kamu, kenapa Mas?" Bu Moy heran.
"Kamu jangan ngomong soal tuyul, dong! Aku kan jadi merinding?" sahut Pak Moyan "janji, jangan ngomong tuyul, ya?"
"Iya, saya janji" kata Bu Moy sambil mengangkat tangan kanan seperti pramuka yang mengucapkan sumpah setia.
"Begini saja, Bu..." kata Pak Moyan sambil merangkak keluar dari kolong meja "kita pura-pura pergi keluar kota, lalu kita berdua menyamar jadi orang lain untuk menyelidiki perilaku anak-anak kita. Siapa tahu mereka yang menyebabkan kita rugi selama ini."
"Saya setuju banget, Mas..." kata Bu Moy "kebetulan saya memang sudah lama curiga pada ketiga anak-anak kita itu."
Keesokan harinya Pak Moyan dan istrinya berpamit pada ketiga anaknya untuk keluar kota, padahal mereka sengaja menginap di rumah tetangga.
Malam harinya Pak Moyan dan istrinya pergi ke toko miliknya dengan menyamar. Pak Moyan mengenakan topi lebar dan kumis palsu sambil mengulum bola bekel di mulutnya, supaya suaranya sulit dikenali saat berbicara. Sedangkan Bu Moy mengenakan gaun sari seperti wanita India dengan gelang di hidung.
Ketika mereka memasuki toko, kebetulan yang giliran menjaga adalah Si Pindi. Tampak Pindi sedang duduk santai sambil membaca komik.
"Halo, saya turis" kata Pak Moyan dan istrinya.
"Halo juga" sahut Pindi tanpa menengok "mau beli apa?"
"Saya mau beli minyak rambut, bedak dan sendal jepit"
"Silahkan ambil sendiri dan uangnya taruh saja di meja" sahut Pindi.
"Harganya berapa?"
"Terserah" sahut Pindi dengan acuh sambil terus membaca komik.
Setelah meninggalkan toko, Pak Moyan berkata kepada istrinya "huh, pantas saja kita rugi. Si Pindi itu pemalas sekali. Dia tidak mau melayani dan juga tidak mau perduli soal harga."
"Pindi itu memang keterlaluan" Bu Moy ngomel "pantas kabarnya ada tetangga kita yang bilang bahwa harga di toko kita murah sekali, soalnya dia katanya pernah membeli beras setengah karung cuma membayar Rp. 5000.-"
Keesokkan harinya kembali Pak Moyan dan istrinya pergi ke toko miliknya, dan giliran yang menjaga toko adalah Si Pini.
"Mau beli apa?" Pini langsung mendatangi.
"Kami mau beli sembako" kata Bu Moy "apakah ini tokonya Pak Moyan?"
"Bukan. Ini toko milik saya" sahut Pini "Pak Moyan itu pelayan saya.
"Oo.. begitu" Bu Moy mengangguk-ngangguk, sementara Pak Moyan ingin sekali memukul hidung anaknya itu karena mengatakan dia adalah pelayannya.
"Apakah kalau saya membeli banyak, akan dapat potongan harga?"
"Bukan hanya potongan harga, tapi juga berhadiah" sahut Pini bersemangat "di toko saya ini kalau beli satu sabun mandi dapat hadiah sebuah TV. Kalau beli satu botol minyak angin dapat hadiah kulkas!"
"Wow bukan main..." Bu Moy berdecak pura-pura kagum walaupun ingin sekali dia menarik mulut anaknya yang pembohong itu "kalau saya beli peniti, hadiahnya apa?"
"Hadiahnya ikut tour ke Bali. Tapi ngumpulnya di Denpasar" kata Pini "tapi semua hadiahnya baru diantar lima tahun kemudian."
Setelah membeli sembako secukupnya, Pak Moyan dan istrinya meninggalkan toko tersebut dengan hati yang geram.
Keesokkan harinya Pak Moyan dan istrinya bersiap-siap untuk berbelanja lagi, dan mereka pasti akan bertemu Pisi.
"Nanti kita akan bertemu Pisi, Mas" kata Bu Moy "aku yakin anak kita Si Pisi ini lebih baik dari pada Si Pindi dan Si Pini, soalnya Pisi adalah anak yang lugu."
"Lugu apanya?" Pak Moyan menggerutu "masa mentang-mentang lugu, pernah digigit anjing diam saja?"
Dan memang benar, ketika mereka tiba di toko, tampak Pisi yang menjaga.
"Permisiiii, kami mau beliiii...." kata Pak Moyan.
"Apa?" Pisi bertanya.
"Saya dan istri saya mau beli."
"Kapan?"
"Kok kapan?" Pak Moyan jengkel "kami datang ke sini mau beliiiiii....!!"
"Banyak nyamuk?"
"Begitulah kalau anak lugu, Mas" Bu Moy berbisik pada suaminya.
"Itu bukan lugu, tapi kupingnya budek!" Pak Moyan marah-marah "pantas saja kita rugi. Punya anak laki-laki tiga orang, tapi tiga-tiganya nggak ada yang beres."
Sejak saat itu Pak Moyan tidak lagi mempercayakan tokonya kepada ketiga anaknya, tetapi dia dan istrinya sendiri yang mengurusnya. Sedangkan ketiga anaknya diberi tugas membuat dan menjual kue untuk biaya hidup mereka sehari-hari. Kalau kuenya tidak enak dan tidak laku, berarti mereka sendiri yang rugi. Hanya cara itu yang membuat Pindi, Pini dan Pisi bisa menghargai jerih payah kedua orang tuanya. ***
Saturday, October 2, 2010
HAUS + KIKIR = JATUH
Pak Pel-Lit adalah orang yang sangat kikir. Suatu hari saat dia berjalan-jalan, dia merasa haus. Tapi dia tidak mau membeli minuman meskipun dia membawa uang yang cukup banyak. Maklum, dia adalah orang kaya.
Tapi panas matahari yang sangat terik membuat rasa hausnya tak tertahankan lagi. Akhirnya dia pergi mendekati penjual kelapa muda.
"Kelapa mudanya berapa harganya satu buah?" Pak Pel-Lit bertanya. "Rp. 5000, langsung dikupas, dimakan dan diminum airnya disini" jawab si penjual kelapa.
"Mahal sekali" Pak Pel-Lit bersungut-sungut "Rp. 200 saja, ya?"
"Berapa?" si penjual kelapa seakan tidak percaya.
"Boleh, tapi kulitnya saja."
"Menghina!" Pak Pel-Lit marah-marah "memangnya saya pemain kuda lumping disuruh makan kulit kelapa?"
"Memangnya saya jualan kelapa ini nggak pakai modal?" si penjual kelapa ikutan marah-marah "mana ada kelapa muda harganya Rp. 200?"
Sambil terus bersungut-sungut akhirnya Pak Pel-Lit meneruskan perjalanannya dengan menahan rasa haus. Tak lama kemudian dilihatnya seorang penjual buah semangka yang segar. Yang membuat Pak Pel-Lit tertarik, di situ ada tulisan "Gratis".
"Wah, ini baru kejutan" kata Pak Pel-Lit, dalam hati "orang ini pasti hatinya sangat mulia, soalnya semangka dagangannya boleh dimiliki orang lain secara gratis alias tidak perlu membayar."
"Semangkanya segar-segar, ya?" Pak Pel-Lit menyapa.
"O, iya. Ini buah semangka pilihan, Tuan" si penjual semangka tersenyum ramah "semangka ini didatangkan dari India, benihnya dibeli di Korea, menanamnya di Jepang, setelah dipetik lalu didinginkan di Tibet, dekat gunung Himalaya, kemudian dikemas di Belanda, terus dikirim ke sini."
"Ooo... begitu" Pak Pel-Lit mengangguk-angguk kagum.
"Silahkan pilih sendiri yang Tuan suka" penjual semangka itu berkata dengan ramah "Tuan boleh membawa berapa saja."
"Oh, saya terharu."
"Memang semua orang yang melihat semangka ini akan terharu, soalnya buah-buah ini sudah menempuh perjalanan sangat jauh."
"Saya bukan terharu karena perjalanan buah-buah ini" kata Pak Pel-Lit "tapi saya terharu karena buah-buah ini gratis."
"Memang gratis, Tuan."
"Jadi saya boleh mengambil berapa saja tanpa membayar?"
"Bukan begitu" sahut si penjual semangka "maksudnya gratis kalau hanya melihat-lihat dan memegang. Tapi kalau mau dibawa ya harus bayar. Tapi harganya murah, kok. Cuma Rp. 30000 sebuah."
"Rp. 30000?" Pak Pel-Lit terperanjat.
"Tapi ini semangka super."
"Super sih super. Tapi masak harganya satu buah Rp. 30.000?" Pak Pel-Lit ngomel "uang Rp. 30.000 itu kalau dibelikan kerupuk bisa dapat banyak."
"Ya sudah, khusus untuk Tuan saya jual murah. Cukup Rp. 29.900 saja."
"Enggak" Pak Pel-Lit menolak.
"Rp. 29.850 saja-lah! Kan murah?"
"Enggak"
"Rp. 29.800 ditambah bonus stiker."
"Enggak"
Si pedagang semangka itu akhirnya marah-marah karena Pak Pel-Lit terus pergi meneruskan dagangannya. Sementara itu hari semakin panas dan Pak Pel-Lit semakin kehausan. Akhirnya Pak Pel-Lit tidak sanggup berjalan lagi dan berteduh dibawah pohon rindang untuk melepaskan lelah.
Sambil duduk, Pak Pel-Lit mengeluarkan dompetnya yg tebal dan memeriksa isinya yg penuh sesak dengan lembaran ratus ribu rupiah.
"Hmm... uang ini sangat berarti bagiku" kata Pak Pel-Lit dalam hati "sayang kalau uang ini berkurang hanya untuk beli kelapa muda atau semangka."
Teng! Teng! Teng! Terdengar suara bel tukang penjual es pikulan.
Seorang penjual es tampak memikul dagangan es sirup, lalu ikut berteduh dibawah pohon rindang itu, persis di dekat Pak Pel-Lit.
Pak Pel-Lit menelan air liur saat mencium bau aroma es sirup yang segar itu.
"Es sirupnya segelas berapa, Bang?" Pak Pel-Lit bertanya.
"Rp. 500, Tuan. Mau beli segelas?"
"Enggak. Cuma tanya saja."
Es sirup begitu saja Rp. 500 segelas" kata Pak Pel-Lit dalam hati "lebih baik di rumah nanti aku membuat sendiri. Gratis lagi."
Karena merasa tergoda oleh bau aroma es sirup itu, maka Pak Pel-Lit kembali meneruskan perjalannya. Kali ini dia langsung menuju arah ke rumahnya. Supaya bisa sampai di rumah lebih dekat dan tidak perlu membayar ongkos kendaraan, Pak Pel-Lit sengaja memotong jalan terdekat lewat sebidang kebun kelapa.
Ketika Pak Pel-Lit melihat-lihat buah-buah kelapa muda di atas pohon, rasa hausnya timbul kembali.
"Tuan ingin kelapa muda?" tiba-tiba seorang laki-laki tua menyapa "kalau Tuan suka, silahkan mengambil sendiri. Gratis."
"Gratis?" Pak Pel-Lit tertarik.
"Iya. Gratis. Soalnya kebun kelapa ini milik saya." sahut orang tua itu.
Setelah mengucapkan terima kasih, Pak Pel-Lit mulai mencoba memanjat pohon kelapa. Sebenarnya dia tidak bisa memanjat. Tapi demi menghilangkan rasa haus tanpa membayar, dia terus berusaha memanjat. Sedikit demi sedikit, seperti anak kucing ikut lomba panjat pinang.
Tapi setelah mencapai ketinggian hampir setengah batang, kedua lutut Pak Pel-Lit mulai gemetar. Apalagi persis di atasnyadia melihat seekor tokek yang kepalanya menghadap ke arahnya sambil melotot.
"Hus, pergi! Pergi!" Pak Pel-Lit mengusir tokek itu. Tapi karena si tokek tidak mengerti bahasa manusia, maka binatang itu merasa tersinggung karena merasa ditantang. Tokek itu melompat ke arah Pak Pel-Lit. Pak Pel-Lit kaget dan jatuh.
Di rumah sakit, Pak Pel-Lit harus mengeluarkan biaya Rp. 5000.000 untuk biaya pengobatan, hanya karena tidak rela membayar Rp. 500 untuk segelas es sirup. ***
Tapi panas matahari yang sangat terik membuat rasa hausnya tak tertahankan lagi. Akhirnya dia pergi mendekati penjual kelapa muda.
"Kelapa mudanya berapa harganya satu buah?" Pak Pel-Lit bertanya. "Rp. 5000, langsung dikupas, dimakan dan diminum airnya disini" jawab si penjual kelapa.
"Mahal sekali" Pak Pel-Lit bersungut-sungut "Rp. 200 saja, ya?"
"Berapa?" si penjual kelapa seakan tidak percaya.
"Boleh, tapi kulitnya saja."
"Menghina!" Pak Pel-Lit marah-marah "memangnya saya pemain kuda lumping disuruh makan kulit kelapa?"
"Memangnya saya jualan kelapa ini nggak pakai modal?" si penjual kelapa ikutan marah-marah "mana ada kelapa muda harganya Rp. 200?"
Sambil terus bersungut-sungut akhirnya Pak Pel-Lit meneruskan perjalanannya dengan menahan rasa haus. Tak lama kemudian dilihatnya seorang penjual buah semangka yang segar. Yang membuat Pak Pel-Lit tertarik, di situ ada tulisan "Gratis".
"Wah, ini baru kejutan" kata Pak Pel-Lit, dalam hati "orang ini pasti hatinya sangat mulia, soalnya semangka dagangannya boleh dimiliki orang lain secara gratis alias tidak perlu membayar."
"Semangkanya segar-segar, ya?" Pak Pel-Lit menyapa.
"O, iya. Ini buah semangka pilihan, Tuan" si penjual semangka tersenyum ramah "semangka ini didatangkan dari India, benihnya dibeli di Korea, menanamnya di Jepang, setelah dipetik lalu didinginkan di Tibet, dekat gunung Himalaya, kemudian dikemas di Belanda, terus dikirim ke sini."
"Ooo... begitu" Pak Pel-Lit mengangguk-angguk kagum.
"Silahkan pilih sendiri yang Tuan suka" penjual semangka itu berkata dengan ramah "Tuan boleh membawa berapa saja."
"Oh, saya terharu."
"Memang semua orang yang melihat semangka ini akan terharu, soalnya buah-buah ini sudah menempuh perjalanan sangat jauh."
"Saya bukan terharu karena perjalanan buah-buah ini" kata Pak Pel-Lit "tapi saya terharu karena buah-buah ini gratis."
"Memang gratis, Tuan."
"Jadi saya boleh mengambil berapa saja tanpa membayar?"
"Bukan begitu" sahut si penjual semangka "maksudnya gratis kalau hanya melihat-lihat dan memegang. Tapi kalau mau dibawa ya harus bayar. Tapi harganya murah, kok. Cuma Rp. 30000 sebuah."
"Rp. 30000?" Pak Pel-Lit terperanjat.
"Tapi ini semangka super."
"Super sih super. Tapi masak harganya satu buah Rp. 30.000?" Pak Pel-Lit ngomel "uang Rp. 30.000 itu kalau dibelikan kerupuk bisa dapat banyak."
"Ya sudah, khusus untuk Tuan saya jual murah. Cukup Rp. 29.900 saja."
"Enggak" Pak Pel-Lit menolak.
"Rp. 29.850 saja-lah! Kan murah?"
"Enggak"
"Rp. 29.800 ditambah bonus stiker."
"Enggak"
Si pedagang semangka itu akhirnya marah-marah karena Pak Pel-Lit terus pergi meneruskan dagangannya. Sementara itu hari semakin panas dan Pak Pel-Lit semakin kehausan. Akhirnya Pak Pel-Lit tidak sanggup berjalan lagi dan berteduh dibawah pohon rindang untuk melepaskan lelah.
Sambil duduk, Pak Pel-Lit mengeluarkan dompetnya yg tebal dan memeriksa isinya yg penuh sesak dengan lembaran ratus ribu rupiah.
"Hmm... uang ini sangat berarti bagiku" kata Pak Pel-Lit dalam hati "sayang kalau uang ini berkurang hanya untuk beli kelapa muda atau semangka."
Teng! Teng! Teng! Terdengar suara bel tukang penjual es pikulan.
Seorang penjual es tampak memikul dagangan es sirup, lalu ikut berteduh dibawah pohon rindang itu, persis di dekat Pak Pel-Lit.
Pak Pel-Lit menelan air liur saat mencium bau aroma es sirup yang segar itu.
"Es sirupnya segelas berapa, Bang?" Pak Pel-Lit bertanya.
"Rp. 500, Tuan. Mau beli segelas?"
"Enggak. Cuma tanya saja."
Es sirup begitu saja Rp. 500 segelas" kata Pak Pel-Lit dalam hati "lebih baik di rumah nanti aku membuat sendiri. Gratis lagi."
Karena merasa tergoda oleh bau aroma es sirup itu, maka Pak Pel-Lit kembali meneruskan perjalannya. Kali ini dia langsung menuju arah ke rumahnya. Supaya bisa sampai di rumah lebih dekat dan tidak perlu membayar ongkos kendaraan, Pak Pel-Lit sengaja memotong jalan terdekat lewat sebidang kebun kelapa.
Ketika Pak Pel-Lit melihat-lihat buah-buah kelapa muda di atas pohon, rasa hausnya timbul kembali.
"Tuan ingin kelapa muda?" tiba-tiba seorang laki-laki tua menyapa "kalau Tuan suka, silahkan mengambil sendiri. Gratis."
"Gratis?" Pak Pel-Lit tertarik.
"Iya. Gratis. Soalnya kebun kelapa ini milik saya." sahut orang tua itu.
Setelah mengucapkan terima kasih, Pak Pel-Lit mulai mencoba memanjat pohon kelapa. Sebenarnya dia tidak bisa memanjat. Tapi demi menghilangkan rasa haus tanpa membayar, dia terus berusaha memanjat. Sedikit demi sedikit, seperti anak kucing ikut lomba panjat pinang.
Tapi setelah mencapai ketinggian hampir setengah batang, kedua lutut Pak Pel-Lit mulai gemetar. Apalagi persis di atasnyadia melihat seekor tokek yang kepalanya menghadap ke arahnya sambil melotot.
"Hus, pergi! Pergi!" Pak Pel-Lit mengusir tokek itu. Tapi karena si tokek tidak mengerti bahasa manusia, maka binatang itu merasa tersinggung karena merasa ditantang. Tokek itu melompat ke arah Pak Pel-Lit. Pak Pel-Lit kaget dan jatuh.
Di rumah sakit, Pak Pel-Lit harus mengeluarkan biaya Rp. 5000.000 untuk biaya pengobatan, hanya karena tidak rela membayar Rp. 500 untuk segelas es sirup. ***
Sunday, March 21, 2010
Tiga Pemburu Macan
Seekor macan yang kelaparan turun dari gunung untuk mencari mangsa. Karena semua binatang seperti kijang, babi, kelinci, ayam hutan, dan yang lainnya sudah habis dimakannya, maka macan itu turun dari gunung untuk mencari binatang buruan yang lain.
Tentu saja penduduk desa yang terletak di kaki gunung jadi ketakutan. Apalagi macan itu sering mencuri ternak milik penduduk untuk dibuat sarapan. Belum lagi makan siang dan makan malam bahkan kadang-kadang pakai cuci mulut segala.
Pernah suatu hari macan itu mencuri seekor kambing untuk makan malam, lalu kembali lagi mencuri ayam untuk cuci mulut.
"Wah, kalau begini terus-menerus, ternak kita bisa habis!" kata seorang penduduk "masa kambing saya ada lima ekor sekarang tinggal dua ekor?"
"Itu masih lumayan" kata temannya "saya tadinya punya kambing cuma satu ekor, sekarang tinggal ekornya saja!"
"Sapi saya ada seekor, sekarang tinggal separoh!"
"Ayam saya cuma dua ekor, sekarang habis semua" ucap penduduk yang lain "padahal saya mau masak soto ayam? Jadinya gagal!"
"Tapi kuda saya kok nggak dimakan?" ucap salah seorang penduduk yang pekerjaannya sebagai anggota kuda lumping "padahal dua ekor kuda itu saya gantung di dinding. Tapi aman-aman saja, tuh!"
"Iyalah! Kudamu itu kan kuda lumping?!!" penduduk yang lainnya melotot.
"Pokoknya hal ini harus kita laporkan kepada Raja!" mereka ramai-ramai berseru. Pada keesokkan harinya mereka berbondong-bondong menuju istana sambil membawa slogan-slogan yang berisi berbagai tulisan. Ada tulisan yang bertuliskan "Kami Menolak Macan!", "Gantung Si Macan!", "Jangan Macan-Macan Sama Saya!", "Macan, No! Harimau, Yes!", "Macan Harus Diganti Nama Menjadi Micin!", "Ayo Kita Main Macan-Macanan!" dan lain sebagainya.
Akhirnya Raja mengumumkan sayembara bahwa siapa saja yang bisa membunuh macan itu akan diberi hadiah sekantong emas. Tapi tidak ada yang berani, karena macan itu terkenal ganas sekali.
Akhirnya datanglah tiga orang pemburu untuk mendaftarkan diri mengikuti sayembara. Dua orang diantaranya bersenjata golok, yang seorang lain bersenjata tombak.
"Kalian bertiga sanggup membunuh macan itu?" Raja bertanya.
"Sanggup, Tuanku" sahut mereka "macannya berapa ekor?"
"Satu ekor"
"Yaaa... kok cuma satu ekor?" kata salah seorang dari mereka "kalau cuma satu ekor, saya tidak perlu pakai golok, tapi cukup pakai peniti saja!"
"Macannya cuma satu ekor?" kata temannya "bisa minta tambah lagi, nggak?"
"Macan cuma satu ekor saja kok ribut?" ucap yang seorang lagi "biar nanti saya yang menangkapnya untuk mainan anak saya!"
Lalu dengan sikap yang gagah ketiga orang pemburu itu menuju hutan di kaki gunung tempat macan itu berada.
Tetapi belum sampai mereka tiba di hutan yang dituju, mendadak macan itu muncul sambil meraung memperlihatkan taringnya yang tajam.
Ketiga pemburu itu terkejut dan ketakutan. Dua orang diantaranya menghunus golok tapi hanya diacung-acungkan saja. Sedangkan pemburu yang membawa tombak tidak bisa menggunakan tombaknya karena kedua tangannya menggigil.
"Toloooong, ada macaaaaaan...!!!" mereka menjerit ketakutan.
Macan itu mulai merendahkan tubuhnya sambil menggeram, kemudian tiba-tiba melompat menerkam. Ketiga pemburu itu makin menjerit-jerit.
Tetapi mendadak macan itu tersentak di udara lalu jatuh terbanting ke atas tanah, ketika sebatang anak panah menyambar dan tertanam di antara kedua matanya. Macan ganas itu mati seketika.
Lalu muncullah seorang lelaki tua membawa busur. Ternyata dialah yang telah membunuh macan itu.
"Terima kasih, Pak! Bapak telah menyelamatkan kami!" kata salah seorang pemburu itu "tapi tolong jangan bilang-bilang sama Raja, ya!"
"Katakan saja kami yang membunuh macan itu" kata temannya.
"Nanti hadiahnya kita bagi dua" sahut yang lain "Bapak setuju?"
"Tidak!" sahut orang tua itu "aku justru akan menghukum kalian, karena kalian bertiga adalah pembohong". Orang tua itu lalu membuka topi dan pakaiannya dan tampaklah baju kebesaran seorang raja.
"Tuanku!!" ketiga pemburu itu kaget sekali, karena orang tua itu tak lain adalah raja mereka sendiri.
"Tuanku menyamar kok nggak bilang-bilang sih?"
"Lain kali kalau menyamar, ngomong dulu, dong!"
"Kalau begini kan kami jadinya malu?"
Tanpa ampun ketiga orang pemburu gadungan itu dihukum oleh raja dengan memasukkan mereka bertiga ke dalam kandang macan, tapi macannya sudah tua sekali dan tidak punya kuku dan gigi lagi.
Setiap hari mereka menjerit-jerit kegelian ketika macan tua itu menangkap mereka lalu mereka dijilati dan dihisap seperti es krim.
"Toloooong...!!" mereka menjerit-jerit "lebih baik kami dimakan macan sungguhan biar cepat mati! Kalau dijilat-jilat dan diisap-isap begini, habisnya kapan?"
Tapi hukuman itu harus tetap dilaksanakan. ***
Saturday, March 20, 2010
SI JAMBUL DAN SI CHARLES
Mang Bo'ir bangga sekali. Untuk yang kesekian kalinya, ayam jantan aduannya yang bernama Si Jambul, menang lagi. Pokoknya dalam setiap pertandingan adu ayam, Si Jambul selalu tampil sebagai pemenang.
"Ayam siapa dulu, dong!" Mang Bo'ir menepuk dada.
"Mang Bo'ir, bagaimana sih rahasianya supaya ayam jantan bisa jadi ayam jagoan?" salah seorang tetangganya bertanya "soalnya saya punya ayam kalau diadu selalu kalah!".
"Oo... itu memang sulit" kata Mang Bo'ir "ayam milikmu itu memang keturunan ayam kampung. Beda dengan Si Jambul, ayam saya!".
Si Jambul, ayam milik Mang Bo'ir memang tampaknya bukan ayam sembarangan. Badannya tinggi tegap, bulu-bulunya berwarna merah, pial dan gelambirnya juga berwarna merah. Sepasang kakinya kekar dengan dilengkapi taji yang runcing yang bisa melukai musuhnya.
Suatu hari kampung tempat tinggal Mang Bo'ir dikejutkan oleh beberapa orang tamu yang datang dari kampung seberang. Orang-orang itu masing-masing membawa ayam jantan aduannya. Mereka dipimpin oleh seorang laki-laki juara adu ayam bernama Pak Koli.
"Halo, saudara-saudara!" kata Pak Koli "kami datang ke kampung ini untuk menantang adu ayam. Kalau ayam kami menang, kami akan memotong semua ayam jago di kampung ini untuk digoreng. Tetapi kalau ayam kami kalah, kami akan memberi hadiah uang tunai seratus juta, ditambah bonus stiker dan penggaris. Siapa yang berani?"
"Saya berani!" Mang Bo'ir mengangkat tangan "pokoknya ingat perjanjian, ya! Kalau ayam kalian kalah, kalian akan membayar uang seratus juta dengan ditambah bonus stiker dan penggaris!"
"Benar" Pak Koli tersenyum " tapi kalau ayam kalian kalah, maka ayam kalian akan dipotong dan digoreng!". "Boleh!" sahut Mang Bo'ir "tapi menggorenggnya harus pakai kecap, ya! Soalnya saya suka banget sama ayam goreng bumbu kecap!". Akhirnya ditentukan waktunya untuk adu ayam, yaitu pada hari Minggu siang bertempat di gedung 'Aduhai' yaitu singkatan Arena Adu Heboh Ayam Internasional. Menjelang hari pertandingan banyak wartawan berdatangan untuk mewawancarai Mang Bo'ir sebagai juara bertahan. "Mang Bo'ir, apakah Anda yakin ayam Anda akan menang?" tanya seorang wartawan dari majalah "Kukuruyuk". "Yakin banget!" kata Mang Bo'ir "soalnya ayam jago saya tidak pernah kalah. Ayam jago saya itu bukan keturunan ayam biasa".
"Ayam jago Anda keturunan apa?"
"Ayam jago saya itu neneknya adalah burung rajawali, kakeknya ayam bangkok, bapaknya ayam kalkun, dan ibunya asli ayam hutan" sahut Mang Bo'ir.
"Menurut Anda, pertarungan adu ayam ini sampai berapa ronde?"
"Si Jambul, ayam saya itu, biasanya sudah bisa melumpuhkan lawannya dalam waktu tiga sampai empat ronde".
Akhirnya waktu yang ditentukan tiba.
Pada hari minggu siang itu, pertandingan adu ayam pun dimulai. Ayam-ayam aduan dari kelompok Mang Bo'ir dan kelompok Pak Koli mulai diadu satu persatu. Para penonton bersorak-sorak memberi semangat kepada ayam-ayam yang bertarung.
Ayam Mang Bo'ir yang bernama Si Jambul dan ayam Pak Koli yang bernama Si Charles berhasil mengalahkan semua lawan-lawannya. Akhirnya kedua ayam jago itu memasuki babak final.
"Saudara-saudara semua!" ketua panitia berpidato "Sejauh ini kedudukan masih seri. Kelompok ayam Mang Bo'ir dan kelompok ayam Pak Koli ternyata memiliki nilai yang sama. Sekarang tibalah saatnya pertandingan penentuan atau final antara Si Jambul dan Si Charles!"
"Horeeeeeee...!!!" para penonton bersorak riuh rendah.
Mang Bo'ir tersenyum karena yakin Si Jambul akan menang. Soalnya sehari sebelum pertandingan, Si Jambul sudah diberi minum jamu pegal linu, jamu beras kencur dan jamu ginseng. Pak Koli juga tersenyum sebab dia yakin ayamnya, Si Charles, akan menang. Soalnya Si Charles juga sudah diberi minum jamu tolak angin, jamu salah urat dan jamu anti jerawat.
Teng! Lonceng ronde pertama sudah dibunyikan.
Si Jambul dan Si Charles saling berhadapan dengan bulu-bulu leher yang berdiri tegak menandakan siap bertarung.
"Ayo, Jambul! Jangan mau kalah! Hajar dia pakai hook kiri!" Mang Bo'ir berseru memberi semangat kepada ayam jagonya.
"Jangan takut, Charles!" Pak Koli juga memberi semangat kepada ayam jagonya "Jatuhkan dia pakai swing kanan!"
"Polisiiii...!!!" tiba-tiba para penonton berteriak dan berlarian.
Mang Bo'ir dan Pak Koli kaget karena tiba-tiba tempat itu sudah dikepung polisi. Akhirnya Mang Bo'ir dan Pak Koli ditangkap dengan tuduhan telah melanggar hukum MATBKPATE (Mengadu Ayam Tanpa Belas Kasihan Padahal Ayamnya Tidak Berdosa).
Beberapa hari kemudian Mang Bo'ir dan Pak Koli hanya bisa termenung sedih sambil meringkuk didalam sel tahanan. Mereka telah menerima ganjaran atas perbuatan mereka. ***
Subscribe to:
Posts (Atom)